Pembangunan Sektor Peternakan di Indonesia
Indonesia merupakan Negara agraris dengan segala kekayaan alam yang melimpah ruah dengan sumber daya manusia yang berjuta tak tertampung oleh pekerjaan. Indonesia memiliki letak geografis yang mendukung untuk iklim peternakan, karena Indonesia berada di daerah tropis dengan pergantian waktu siang dan malam dengan interval waktu 12 jam.
Peternakan di Indonesia saat ini sangat dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi seluruh masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke. Berdasarkan data yang diperoleh, pada tahun 2008 terjadi peningkatan produksi daging dan susu sekitar 1,5 % untuk kebutuhan nasional. Tapi hal itu belum mencukupi semua kebutuhan protein masyarakat secara nasional.
Oleh karena itu diperlukan pembangunan sektor peternakan di seluruh penjuru tanah air sebagai salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan protein nasional.
Prospek Pembangunan Sektor Perunggasan
Pada dekade terakhir, rata-rata jumlah ayam petelur yang dipelihara bertahan pada angka sekitar 295 ekor, dengan variasi tidak lebih dari 6,7 % untuk setiap tahunnya, dengan produksi telur yang meningkat terus menerus. Konsumsi broiler telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir, terutama karena ayam dan unggas lainnya adalah merupakan salah satu dari beberapa jenis bahan makanan yang tetap tersedia saat ini dengan harga yang tidak lebih tinggi dari harga 20 tahun yang lalu.
Industri perunggasan telah berubah dari tahun ke tahun dari jumlah usaha ayam sedikit di pekarangan rumah, menjadi usaha dengan jumlah ayam yang sangat banyak, yang ditangani oleh konglomerat secara cermat. Sekitar 82.000 peternakan komersial di Amerika Serikat menghasilkan 96 % nilai total produk unggas, yang menunjukkan pula bahwa dengan semakin sedikitnya jumlah usaha, peternakan tersebut menjadi semakin besar ukurannya. Diperkirakan bahwa ada sekitar 100 peternakan di amerika serikat dengan penjuaalan produk unggas sebesar satu juta dolar atau lebih.
INDUSTRI AYAM PETELUR
Meskipun tatalaksana pemeliharaan ayam untuk tujuan produksi telur bersifat sangat kompleks, beberapa saran tatalaksana yang sifatnya mendasar akan berguna bagi orientasi para peternak pemula di dalam menjalankan usaha mereka. Kecuali untuk beberapa kawasan di mana telur-telur berwarna cokelat memiliki pasaran yang baik, ayam petelur dengan telur-telur berwarna putihlah (leghorn putih atau leghorn silangan) yang dianjurkan untuk digunakan dalam produksi telur komersial. Kunci untuk berhasil dalam persaingan usaha telur adalah menggunakan ayam petelur yang berproduksi tinggi, apa pun bangsa atau strain ayam itu. Penekanan hendaknya kepada catatan produksi dari ayam-ayam yang terseleksi dalam test atau pengujian peneluran.
Perkandangan
Konstruksi kandang ayam petelur tergantung pada ukuran atau besarnya usaha, kondisi lingkungan dan kesukaran peternak masing-masing. Desain kandang yang umum adalah kandang dengan lantai langsung, lantai slat atau kawat dan baterai.
Kandang tipe lantai langsung atau alas liter adalah kandang terbuka yang ditutupi alas setebal 15-20 cm guna menyerap uap air dari feses sepanjang peneluran. Sangkar dan tempat bertengger disediakan di samping tempat makanan dan minuman.
Kandang slat atau lantai kawat menggunakan slat atau bilah kayu yang buat miring dari lantai, kawat, atau kombinasi keduanya. Hal ini mempermudah pembuangan kotoran dan tidak membutuhkan alas kandang. Digunakan sarang, tempat bertengger, tempat makan dan minum otomatis.
Ada beberapa variasi pada banyaknya ayam di dalam satu sangkar kawat. Tipe yang paling umum adalah untuk satu ekor ayam betina dengan ukuran 20 x 40 cm atau 2 ayam betina juga dengan ukuran 20 x 40 cm (tidak lebih dari ruang yang hanya cukup untuk membalikkan badan). Beberapa koloni kandang (sekitar 25 ayam betina per kandang yang besar) juga popular. Keuntungan system kurungan adalah bahwa letak fesesnya terarah, lebih banyak ayam yang dapat dipelihara dalam suatu tertentu, telur menggelinding di atas dasar kurungan ke arah tempat pengumpulan telur, dan dapat dihindari berjangkitnya parasit internal. Kerugiannya adalah seperti misalnya sulitnya pembuangan kotoran dan banyaknya lalat yang muncul.
Produksi yang Diharapkan
Produksi rata-rata yang baik adalah 20 telur per bulan untuk ayam petelur unggul komersial Kerugian karena kematian satu persen per bulan dianggap normal, ayam yang tidak sehat atau berpenyakit harus disingkirkan. Ayam petelur seharusnya tidak dipelihara dalam kelompok lebih dari 19 bulan karena penurunan produksi akibat umur tersebut tidak dapat dielakkan. Banyak ayam yang dipaksa berganti bulu (force-molted) pada umur ini dan dikembalikan ke produksi normal selama 6-8 bulan berikutnya. Konversi pakan kurang dari 2 kg pakan untuk setiap dosin telur (12 butir) adalah tingkatanyang harus dicapai dengan praktek tatalaksana yang baik. Telur sebaiknya dikumpulkan 5 kali sehari, segera dibersihkan dan disimpan dalam refrigerator pada suhu 13ºC (55ºF), dengan kelembaban nisbi sebesar 75-80%.
Peternakan Ayam Petelur
Hasil pengamatan pada kandang Ayam Petelur
Pemilik : H. Muanas Sidiq
Alamat : Rt 02 Rw 04, Tegalrejo, Selopuro,Kabupaten Blitar
1. Ternak
a. Ayam Broiler yang dipelihara jenis sebagai beriukut :
· Lohman
· Patriot
· Hiline
· Malindo (Mlaysia Indonesia)
b. Umur
· Lohman untuk dara 3 bulan
· Patriot untuk dara 8 bulan
· Hiline untuk dara 12 bulan
· Malindo (Mlaysia Indonesia) untuk dara 9 bulan
Semua jenis ayam diatas diambil sejak baru tetas atau DOC biasanay sekali pembelian 2000 anakan ayam (kutuk) dan dalam interval 3 bulan sekali pembelian. Biasanya 3 bulan pertama dibeli Lohman, 3 bulan berikutnya Patriot, dan seterusnya sampai Malindo.
Afkir untuk semua jenis ayam sampai umur 22 bulan, biasanya kalau produksinya masih 75 persen masih dipertahankan sampai 24 bulan.
2. Perkandangan
a. Kapasitas kandang ya g dilimili adalah 24.000 ayam dengan pembagian:
Kapasitas 1200 ayam sejumlah 8 kandang dan kapasitas 2400 ayam dengan 6 kandang.
b. Kandang à panggung dengan ketinggian 50 cm dari permukaan tanah
c. Atap à asbes semua kandang
d. Arah kandang membujur dari timur ke barat
3. Manajemen Pakan dan Minum
a. Untuk semua jenis kutuk baik jenis Lohman, Patriot, Hiline, maupun Malindo diberi pola pakan yang sama, dengan pengelolaan sebagai berikut:
· 1 hari s.d 2 bulan à pakan butiran (pullet)
· 2 bulan s.d 4 bulan à pakan grower
· 4 bulan s.d afkir à Pakan leyer
b. Untuk komposisi pakan
· Pakan butiran àmembeli pakan jadi, biasaya menggunakan Butiran Lima Sebelas
· Pakan grower à konsentrat 122 + jagung + Katul dengan perbandingan 50 kg konsentrat: 70 kg Jagung: 20 kg katul.
· Pakan leyer à konsentrat leyer + jagung + Katul dengan perbandingan 50 kg konsentrat: 70 kg Jagung: 20 kg katul.
c. Untuk pemberian pakan pada ayam yang sudah leyer diberikan + 0,12 kg perhari untuk 1 ayam, sedangkan pada ayam DOC + 0,012 kg perhari untuk 1 ayam, dan untuk ayam grower disesuaikan dengan ukuran ayam dengan interval + 0,012 s.d 0,12 kg perhari untuk 1 ayam.
d. Untuk pemberian minum mengunakan alat yang disebut Naple. 1 Naple digunakan oleh 4 ayam.
4. Manajemen Kesehatan
a. Penyakit yang sering menjangkiti
- Snot CRD
- ND
- ILT (Infeksi Laring Trakea)
- Gumboro à kehilangan keseimbangan tubuh (di dubur)
b. Pencegahan dan Pengobatan
Untuk jenis Virus seperti pada penyakit Gumboro, ND, dan ILT dilakukan pencegahan. Sedangakan pada jenis bakteri seperti pada snot CRD dilakukan pengobatan dengan cara diberikan antibiotic untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
c. Vaksinasi
Vaksin yang diberikan dan dengan interval sebagai berikut:
| No | Vaksin | Umur | Jenis Vaksin |
| 1. | I | 4 Hari | ND IB |
| 2. | II | 8 Hari | Gumboro |
| 3. | III | 17 Hari | ND |
| 4. | IV | 20 Hari | Gumboro |
| 5. | V | 29 Hari | Gumboro |
| 6. | VI | 35 Hari | IB |
| 7. | VII | 42 Hari | ND (suntik) |
| 8. | VIII | 55 Hari | Koresa (mencegah snot) |
| 9. | IX | 60 Hari | AI pertama |
| 10. | X | 70 Hari | ND (suntik ulang) |
| 11. | XI | 77 Hari | AI kedua |
| 12. | XII | 90 Hari | ND (suntik) |
| 13. | XIII | 120 Hari | ND IDS Kombinasi (agar telur tidak muda) |
| 14. | XIV | 140 Hari | Koresa |
5. Pemasaran
· Telur yang diproduksi dijual ke Poltre Tulung Agung untuk dikirim ke Jakarta.
· Ayam afkir juga di jual ke pengepul
· Kotoran ayam dijual ke pengepul kotoran ayam untuk kompos.
6. Manajemen Keuangan
a. Pengeluaran
·
Pembelian pakan
Jagung : Rp 8.000.000,00
Katul : Rp 2.000.000,00 1 Bulan
Konsentrat : Rp 14.000.000,00
Pakan DOC : Rp 250.000,00 per sak.
Dibutuhkan 25 sak tiap minggu 6.250.000,00
Dibutuhkan Rp 31.500.000,00 perbulan
· Pembelian obat-obatan dan vitamin à
Dibutuhkan Rp 10.000.000,00 perbulan
· Karyawan
5 orang karyawan @ Rp 300.000,00 perbulan
Dibutuhkan Rp 1.500.000,00 perbulan
· Pembelian Bibit
Per 3 bulan Rp 15.500.000,00
Jadi kalau perbulan Rp 5.200.000,00
Total Pengeluaran Perbulan + Rp 64.000.000,00 perbulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar