Sekilas tentang flu babi.
Flu babi (swine influenza) merupakan penyakit yang mirip dengan flu burung yang diidentifikasi sebagai virus influenza tipe A berjenis H1N1 sedangkan flu burung berjenis H5N1. Namun demikian para pakar khawatir H5N1 memiliki potensi pandemic global karena kemampuan mutasinya yang sangat cepat.
Dalam literatur disebutkan, flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi dan biasanya tidak menyebar ke manusia. WHO mengungkapkan bahwa ketika babi terkena flu ini, binatang tersebut akan sakit cukup parah dan babi pengidap flu ini 1 hingga 4 persen akan tewas. Di masa lalu, orang bisa terkena flu babi jika mereka bekerja langsung dengan babi.
Dalam kemunculan virus baru ini, dikatakan bahwa babi adalah mangkuk pencampur untuk munculnya virus baru ini. Burung tidak bisa menularkan flu burung ke manusia. Namun babi adalah pe-nerima virus yang unik dibanding burung. Para pakar telah lama khawatir bahwa seekor babi yang terkena flu burung maka virus itu akan bermutasi di dalam babi dan membentukbaru yang bisa menular ke mamalia lain.
Versi paling baru H1N1 ini berbeda: virus ini memuat materi genetik yang khas ditemukan dalam virus yang menulari manusia, unggas dan babi. Itulah yang mungkin terjadi dalam kasus ini. Babi jug bisa terinfeksi lebih dari satu virus influenza pada saat bersamaan, membuat banyak virus kemudian berbagi gen. Kondisi ini disebut genetic reaasortmen, menciptakan virus baru yang lebih kuat.
WHO menjelaskan bahwa virus ini tampaknya adalah satu subtype yang belum pernah dilihat sebelumnya baik pada manusia atau babi. Ini karena virus baru ini mengandung material genetik dari babi, burung dan manusia. Tidak seperti kasus flu babi pada umumnya, virus baru ini bisa menyebar antar manusia, ujar Besser.
Flu babi biasa biasanya tidak menjalar pada manusia, meski kasus sporadis juga terjadi dan biasanya pada orang yang berhubungan dengan babi. Catatan mengenai kasus penularan dari manusia ke manusia juga sangat jarang. Penularan manusia pada manusia flu babi diperkirakan menyebar seperti flu musiman - melalui batuk dan bersin.
Dalam wabah yang kini terjadi belum jelas apakah penyakit itu ditularkan dari manusia ke manusia. Gejala flu babi pada manusia tampaknya serupa dengan gejala-gejala flu musiman manusia.
Gejala flu babi meliputi demam lebih dari 37,77 derajat Celsius, di sekujur badan terasa sakit, radang tenggorokan, batuk, sulit bernapas, beberapa orang juga mengeluarkan ingus pada hidungnya, nafsu makan menurun dan dalam beberapa kasus pasien muntah-muntah dan diare.
Belum ada vaksin khusus untuk menanggulangi virus flu babi. Virus ini biasanya menyebar melalui kontak langsung dengan babi. Namun semua kasus menunjukkan virus menyebar langsung antarmanusia, ujar kepala bagian kesehatan hewan di Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa di Roma, Italia.
Berdasarkan data dari WHO, memakan daging babi tidak menyebabkan sakit flu babi. Babi yang akan dikonsumsi diawasi terhadap adanya gejala flu, dan babi yang sakit tidak diizinkan masuk dalam suplai makanan. Memasak daging dengan matang juga akan membunuh virus tersebut.
Orang yang bekerja dengan babi, bagaimanapun, bisa terjangkiti virus tersebut. Departemen Pertanian AS kini tengah melakukan pengujian untuk mengonfirmasi bahwa suplai makanan itu aman, ungkap Janet Napolitano, sekretaris Departemen Keamanan Tanah Air Amerika Serikat.
Pencegahan
Hingga kini belum ada vaksin untuk flu babi. Namun pemerintah AS melalui CDC berusaha menciptakan vaksin tersebut. Kami telah mengidentifikasi virus tersebut, ujar Besser. Jika kita sudah bisa memproduksi vaksin, maka kita akan memproduksinya dalam jumlah besar, lanjut Besser. Para ilmuwan CDC belum tahu jika vaksin flu yang akan diciptakan ini bisa menawarkan perlindungan.
Besser menjelaskan bahwa flu babi ini tampak sensitif terhadap obat antiviral seperti Relenza dan Tamiflu, namun tidak terhadap amantadine, atau Symmetrel, dan rimantadine, atau Flumadine. Dengan takaran normal, jika diminum dalam 48 jam pertama setelah gejala itu muncul, antiviral dapa membantu orang terjangkiti untuk sembuh dalam satu atau dua hari. Para dokter terkadang menggambarkan antiviral pada anggota keluarga yang terkena flu itu untuk mencegah penyebaran.
Jika orang sudah mengalami gejala tersebut dia harus tetap tinggal di rumah, untuk mencegah penyebaran sakit ini kepada orang lain. Tidak boleh bepergian dengan pesawat terbang. Orang harus memanggil dokter untuk menanyakan tentang pengobatan terbaik, namun jangan datang ke rumah sakit yang tidak siap menerima pasien dengan flu babi.
Seperti biasa, orang harus sering mencuci tangan. Di masa lalu, CDC mengungkapkan belum ada bukti yang mendukung bahwa menggunakan masker bisa melindungi. Masker operasi didesain untuk mencegah penggunanya dari bakteri yang menyebar, namun juga bisa tertular jika ada orang yang bersin di dekatnya dan terkena cipratan besin itu.
Pada satu pernyataan pada 2007, CDC mengatakan masker ini bisa digunakan seseorang jika harus pergi ke tempat umum, seperti toko grosir, untuk waktu yang singkat. Makser pernapasan N95 bisa menyaring 95 persen partikel untuk mencegah penggunanya tidka menghirup partikel tersebut. Namun ini harus dipasang dengan tepat di sekitar hidung dengan rapat, namun maskir ini akan bisa membuat sedikit kesuiltan bernafas.
Menurut pakar virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) widya asmara, flu babi yang saat ini terjadi bukan merupakan gejala yang pertama kali. Flu babi sudah pernah terjadi pada pada tahun 1976 di amerika serikat. Akibat tertular dari babi, seorang tentara meninggal, akibat swine influenza. Yang terjadi di meksiko saat ini diidentifikasikan virus ini menular dari manusia ke manusia. Penyakit flu babi ini penularannya bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya). Di tempat terpisah pakar virologi dan immunologi departemen mikrobiologi fakultas kedokteran hewan universitas airlangga surabaya, Prof dr drh fendik abdul rantam, juga mengatakan, virus H1N1 yang menyebabkan flu babi merupakan virus ganas. daya serangnya malah lebih ganas ketimbang flu burung. virus h1n1 sebenarnya juga sudah ditemukan di daerah eropa, tepatnya di spanyol pada tahun 1913 yang menyebabkan ribuan manusia meninggal dunia. Yang sangat ditakuti adalah penularan dari manusia ke manusia. Sebab, setiap 3,5 tahun virus akan bermutasi, kata Prof Fendik.
Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS kepada wartawan di Makassar, Sabtu (25/4), pemerintah melakukan enam langkah untuk kesiapsiagaan mencegah H1N1.
Enam langkah itu adalah:
1. Mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit ini dari berbagai sumber,
2. Berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan.
3. Membuat surat edaran kewaspadaan dini
4. Melakukan rapat koordinasi dengan para kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan
5. Berkoordinasi dengan Badan Litbangkes untuk kemungkinan pemeriksaan spesimen, dan
6.Berkoordinasi dengan Departemen Pertanian dan Departemen Luar Negeri untuk merumuskan langkah-langkah tindakan penanggulangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar